Archive for the ‘ke-aku-an’ Category

Paper Pertama

Friday, June 18th, 2010

Alhamdulillah paper pertamaku akhirnya muncul juga di science direct, tepatnya di jurnal Theoretical and Applied Fracture Mechanics (bisa diliat di sini). Namun paper itu akan termasuk di volume, issue, dan page berapa masih belum keliatan, karena si science direct memunculkan paper ini masih sebagai “accepted manuscript”. Btw, ada beberapa catatan menarik tentang paper pertamaku ini, begini ceritanya… )

Paper ini merupakan ringkasan dari tesis master yang selesai tahun lalu. Saat memilih topik tesis Prof memintaku mengerjakan judul ini, pemodelan matematis untuk retakan. Saat itu beliau bilang: ini gampang Lief, karena cuman satu unknown variable aja yang butuh diselesaikan. Aku liat sih ini memang lebih “sederhana” ketimbang pilihan2 lainnya, tapi belum tentu gampang.

Saat itu Prof juga kasih catatan, hasil tesis ini nanti akan dipakai dia selama “cuti” di Oxford. Jadi Prof sudah mbuat tulisan yang berisi introduction dan persamaan dasar. Beliau memintaku untuk melengkapi tulisan itu dengan menurunkan persamaannya, menerjemahkannya menjadi program di Matlab, dan mbuat beberapa grafik. Sementara untuk buku tesis, Prof minta penurunan persamaan, grafik, dan analisanya diperbanyak. Sederhana sekali… Setelah itu selesai, Prof akan mendiskusikannya dengan Prof Korsunsky selama beliau di Oxford.

Ntah gimana Profku berdiskusi dengan Prof Korsunsky, aku gak pernah dilibatkan. Bahkan aku tahu Prof Korsunsky hanya sewaktu beliau ada kunjungan sehari ke NTUST. Saat itu kami diberi kesempatan untuk presentasi riset di lab ke dia. Kemudian dia juga memberikan kuliah umum ke mahasiswa, saat itu ntah dia cerita tentang apa, multiscale modeling atau apa gitu, aku gak paham )

Ntah gimana ceritanya lagi, tiba-tiba Profku kirim e-mail bilang kalo papermu sudah accepted Lief, ini ada koreksi minor, tolong diperbaiki. Aku liat-liat koreksiannya, cuman masalah teknis grafik dan tabel. Aku penasaran kok gampang banget gini… Trus aku liat judul jurnalnya, siapa editornya, wah ketauan dehhhh…. Editornya Prof G.C. Sih, dia itu advisernya Profku pas dulu kuliah di Lehigh University. Wah pantas aja cepet…

Trus selidik punya selidik, ternyata mereka masih saling kontak. Bahkan minggu depan ini NTUST jadi tuan rumah international conference, Mesomechanics 2010. Chairman-nya: C.K. Chao (Profku), Co-chairman: G.C. Sih (Profnya Profku), trus tau gak siapa ketua Mesomechanics 2009 tahun lalu, iya bener, A.M. Korsunsky, orang Oxford itu… Mereka sudah membentuk jaringan ternyata, hahaha… Dan aku termasuk dalam jaringan itu, wakakakaka…

Itulah hebatnya atau cerdiknya atau menyebalkannya (tergantung sudut pandang sampean) ilmuwan-ilmuwan luar Indonesia. Mereka saling kenal, awalnya mungkin karena dulu advisernya, teman se-lab, ketemu di conference, atau hanya karena saling mereview paper. Kemudian dengan skema kerjasama mereka berkolaborasi, menerbitkan paper bersama, saling mengundang sebagai keynote speaker, nulis buku bareng, sampe mbuat conference sendiri. Muanteb tenan…

Aku kadang melihat hal semacam itu dari sudut pandang, iya mereka punya dana sementara di Indonesia lebih penting dana itu untuk pilkada… Tapi pasti ada sisi lain yang kita tidak memilikinya. Sehinggapun ada dana berlimpah, kita belum tentu bisa seperti mereka… Aku menemukan beberapa jawaban, lebih tepatnya masih hipotesa, perlu ada pembuktian lebih lanjut. Utamanya pembuktian terhadap diriku sendiri…


Ngajar Kalkulus…

Thursday, March 4th, 2010

Sampai sekarang rasanya aku masih belum bisa percaya kalo sudah 3 kali ngajar Kalkulus untuk mahasiswa undergraduate di NTUST… Ini aku ceritakan beberapa kejadian…

Jumlah mahasiswanya ada 13 orang yang sudah masuk kelas. 12 orang dari Amerika Latin yang berbahasa Spanyol diantara mereka. Sedangkan 1 orang lagi dari Turki, kelihatan cukup cerdas anaknya… Mereka semua sudah ngambil mata kuliah Kalkulus ini sebelumnya, tapi sayangnya belum lulus. Konon dikarenakan bahasa pengantar yang digunakan adalah Mandarin. Jadi pihak sekolah berinisiatif menyediakan English program untuk Kalkulus. Dan akulah pengajarnya…

Pertemuan pertama begitu mengagetkan… 2 orang dari para murid itu adalah teman setim sepakbola. Kami saling bahu membahu mewakili NTUST tahun lalu dalam kompetisi sepakbola di Taiwan. Eh sekarang mereka jadi muridku, hehehe…

Waktu kelas Mandarin semalem juga gak kalah mengagetkan, 2 orang lain dari para murid itu teman sekelas dalam les Mandarin. Bahkan kemampuannya jauh lebih baik dari aku, walah-walah… Guru berguru ke muridnya, hahahahaha… Ntah kejadian apalagi selanjutnya…

Tapi aku harus berusaha tetap profesional lha, hahahaha… Pernah di kelas mereka panggil aku Profesor, halah2… Terus aku bilang panggil aja namaku, Alief. Eh pertemuan berikutnya mereka panggil Laoshi… Bahkan di kelas Mandarin mereka panggil aku Laoshi juga… walah2… bisa saingan sama Laoshi Stephanie donk aku…. hehehe… Tadi mereka panggil aku teacher… Kupikir apa sih susahnya panggil nama Alief??? Mungkin pertemuan berikutnya aku sarankan mereka panggil cak Alief aja, hehehe…

Sebagai lecturer Kalkulus aku punya kewajiban untuk membuktikan suatu rumus sebelum memakainya. Gak elok lha kalo hanya kasih rumus, kemudian nyelesaikan soalnya pake trik. Emang tentor LBB??? hehehe… Tapi Dean akademik kemaren pesan supaya jangan terlalu banyak konsep, lebih banyak ngelatih skill saja. Tadi mahasiswanya juga bilang hal senada, “Kami percaya sama kamu, gak usah pake dibuktikan gpp kok” Walah2… Ini kelas Kalkulus atau intensif SNMPTN???

Padahal aku butuh juga mengingat kembali gimana nurunkan rumus2 Kalkulus. Misal: gimana ceritanya kok kita bisa tau turunan dari x^n adalah n(x^(n-1))??? Dengan kembali belajar konsep, aku berharap menemukan ide segar untuk membantu risetku. Dan tampaknya sekarang aku lagi tertarik dengan limit, one-sided limit tepatnya. Tapi sekedar tertarik, bukan mempelajarinya, hehehe…

Enaknya ngajar mereka adalah mereka sangat terbuka (sampai saat ini). Kalo merasa bisa, maka mereka bertanya yang lebih sukar… Sedangkan kalo mereka gak bisa, maka gak segan bertanya meski itu hal sepele misalnya. Jadi lumayan mudah mendeteksi sejauh mana daya serap mahasiswa terhadap materi. Homework pertama sudah tak kasihkan, senin mereka akan ngumpulin. Dari situ akan semakin terlihat gimana daya serap mereka sebenarnya…

Bedanya aku ngajar di sini dan di ITS juga terasa banget. Di sini 15 menit sebelum kelas dimulai aku sudah mulai berangkat. Jadi paling tidak 5 menit sebelum bel sudah ada di kelas. Kalo di ITS? Ngajar tepat waktu malah diolok2in sama dosen lain… “Ojo rajin2….” gitu katanya, hehehe…

Di ITS aku bawa text book tiap kali ngajar. Atau bawa slide satu gebok. Jadi pas di kelas baru buka2 materi mana yang mau disampaikan. Jadi gak efektif sama sekali. Kalo di sini aku sudah siapkan dulu materinya, paling hanya 3-4 lembar lecture notes. Dari situlah aku tuliskan materi di papan tulis. Jauh sangat efektif, karena runtutan materi sudah diatur. Sehingga mahasiswa diharapkan lebih mudah mengerti dan fokus.

Kayaknya dua habit itu perlu kupertahankan sampe ngajar Kalkulus ini selesai. Bahkan juga perlu dibawa ke ITS nantinya… Tapi tunggu dulu, itu kalo gaji ngajar di ITS dinaikkan lho, hehehe…. Kalo nggak, ya maaf mahasiswa, ntar aku ngajarnya asal-asalan… hehehe…. Alasan klasik yang sudah tak pantas jadi alasan mestinya…


Satu Harapan Terwujud

Thursday, March 20th, 2008

tifa.jpgSatu dari beberapa harapanku di tahun 2008 telah terwujud. Indonesian Culture Exhibition (ICE) 2008 telah usai dilaksanakan tepat seminggu lalu dan alhamdulillah ada yang bilang: ‘ICE 2008 sukses’. Berikut adalah sekilas cerita tentang ICE 2008.

ICE merupakan kegiatan kebudayaan tahunan yang dilaksanakan oleh mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam NTUST-ISA (Indonesian Student Association). Sebuah organisasi semacam PPI yang khusus buat mahasiswa Indonesia di NTUST saja. Jumlah anggota ISA yang lumayan besar (sekitar 70 an) merupakan modal paling berharga dalam mensukseskan ICE tahun ini.

ICE 2008 yang terdiri dari pemutaran film Indonesia, workshop angklung & sajojo, pameran kebudayaan, makan klepon gratis dan pertunjukan kesenian tradisional mendapatkan dukungan penuh dari pihak kampus NTUST dan pihak kedutaan Indonesia di Taiwan. Dikomandani oleh Mr Wijono, ICE 2008 kiranya telah mencatatkan sejarah di NTUST sebagai kegiatan budaya yang paling besar.

angklung.jpgDekorasi dari pamerannya berkelas, MC pertunjukannya profesional, publikasinya heboh, pengisi acaranya luar biasa. Itu semua hebatnya dilakukan oleh mahasiswa Indonesia sendiri. Benar-benar dahsyat :) Semua mahasiswa Indonesia terlibat, mulai dari mahasiswa S1 sampai Post-doc. Mulai dari yang masih bujang sampai yang berkeluarga. Mulai dari yang super sibuk sampai yang sok sibuk, pokok semuanya deh…. :)

Pendek kata, ICE 2008 sukses dalam mengkonsolidasi mahasiswa Indonesia di NTUST dan kampus sekitarnya, sukses dalam melibatkan mahasiswa lokal Taiwan untuk pertukaran budaya, sukses menjaring ratusan pengunjung, dan sukses menghadirkan presiden NTUST Prof Chen untuk memukul TIFA sebagai pertanda dibukanya ICE 2008. Wis pokok senang banget lha…. :)

Oh ya, ICE 2008 juga turut serta mensukseskan program Visit Indonesia 2008. Banyak gambar, video, dan logo Visit Indonesia 2008 yang terpampang selama acara ICE 2008 berlangsung. Dan puncaknya adalah memberikan tiket gratis pulang pergi Taipei-Bali untuk satu orang mahasiswa lokal Taiwan.

Sepedaan Yuk…

Saturday, December 1st, 2007

s5003144.jpgPagi ini, start jam 6 pagi dari kampus, aku akan bersepeda menuju ke Chiang Kai Sek Memorial Hall, Presidential Building, Sun Yat Sen Memorial Hall dan berakhir di Taipei 101. Trus rencananya sarapan di sekitar situ dan dilanjut liat pameran Elektronik dan Komputer di WTC sampai jam 1 an siang.

Semoga cuaca cerah dan jalanan tidak macet. Setelah 2 kali rute bersepeda melewati pinggiran sungai. Sekarang sengaja menuju ke tengah kota, supaya ada suasana dan pemandangan baru :)

Pertama kali sepedaan di sepanjang sungai Xindian, saya dapat foto pelangi. Kemudian setelah itu mencoba beradu nasib ke Utara sampai Danshui. Alhamdulillah sampai juga meski butuh waktu 4 jam. Trus pulang sepedanya dinaikkan ke MRT karena wis KO. Terakhir sepedaan, menelusuri sungai ke arah Selatan sampai Taipei Zoo. Di sana lihat Pinguin dan teman-teman trus naik Gondola ke Maokong.

Semoga hari ini pun bisa menuntaskan rute yang telah disusun :)

Di sini mancal (bersepeda) adalah sebuah kelaziman. Di dalam kampus tidak boleh ada motor yang masuk, hanya sepeda saja yang boleh berkeliaran. Kalo mau ke masjid, belanja di GongGuan, atau sekedar keliling sekitar kampus, sepeda menjadi jagoan di sini. Pendek kata, bagi mahasiswa sepeda adalah alat transportasi utama.

Sampean juga suka bersepeda? Jika iya, sepedaan yuk… :)